Global Variables

Senin, 19 Maret 2012

Anda Engkau Sedikit Saja Mempercayaiku

Kawan, andai hari itu, lampu rem belakang engkau lihat, bukan sial mendekatimu. Dari simpang ber Polisi, ada sekawanan pejalan kaki, terarak belok kiri, dan aku memelankan motor ini, namun engkau memekikkan klakson mobilmu sembari bernyanyi. Andai engkau lebih berhati-hati, atau sudah takdir ilahi. 

Pejalan kaki biarlah melaju, mereka lebih ada hak untuk dahulu. Ketika itu ku lihat dari gerombolan pejalan pelan menuju, seorang kakek tua tergopong menggendong kotak cerutu. Bayangkan jika saja dia harus menurunkan kotak cerutu demi keegoisan para pengemudi, dia harus memaksa tenaganya lagi untuk mengangkat kepundak yang sudah kaku. Pagi itu, pelanggan setia simpang perempatan lampu memang tetap buru-buru. Setiap pelaju juga ada maksud untuk berlalu. Tapi sial nasibmu. Kau serobot ku dari samping siku, masih pula memencet klakson pemicu, dan terjadilah.

Seketika gerombolan yang tadinya di hadapan berjajar rapi, kini berarak tanpa arah lagi, tercium bemper mobil, dan sial jelas engkau sahabatku. Anda engkau sedikit saja mempercayaiku.
Entah mimpi apa pejalan semalam, pagi itu menjadi kelam, merubah hitam, mimpi mereka berkunang dalam kolam. Itu dia anak itu, pemakai baju keabu-abu, awalnya dalam gondongan sang ibu, nafasnya masih sela menggebu. Hei nak pasti kamu titisan pe-kungfu. Walau sempat terbang dari ciuman bemper yang melaju, kini masih ada roh dalam mu. Lihat sekelilingmu! Mereka kini terbaring kaku. Nak, Ibumu! dia bukan pe-kungfu? Terbukti dia tak mampu sepertimu.
Dari arah kota kemacetan tak terpungkiri. Kami semua histeris juga para penjaga jalan ‘polisi’. Kami tetaplah manusia sewajarnya. Bukan babi hutan yang melihat saudaranya tak lagi terjaga yang hanya bisa meringis tertawa. Polisi pun sama, terlihat mata tegarnya mengucurkan gerlap air mata. “Saudara kami telah tiada”.

Dan entah mendapatkan kekuatan dari mana, sopir bember keluar tanpa rasa. Diam disana, melihat serasa tak berdosa. Dari belakangku ada lelaki berteriak, “hei SETAN! Kau tak menyalahi dirimu? Lihat sekarang jelas-jelas, itu, itu, dan itu semua juga cucu seorang yang pernah merasakan surga”. Dilain arah, pemuda juga ikut berteriak sembari menudingkan jari acungnya, “hei IBLIS, kenapa kau diam saja! Lihat tu dibawah mobilmu masih tersisa jepitan kepala bocah yang kini juga penghuni surga. Dan entah mendapatkan kekuatan dari mana, sopir bemper diam tak menyesalinya.

Saudara kecil kami, kini engaku dalam pelukan pencipta, segera hangatkan kaki-kaki kecilmu pecinta sepak bola, yang pagi itu sempat memainkan juga bola.

Saudara jalanku, kini juga engkau dalam damainya suasanya, tidak lagi akan kau sapa kemacetan disini-sana, segera luapkan rasa lega dalam pendamai abadi.

hei sahabatku, tetaplah melaju, jangan tolehkan kembali muka putihmu. salam untuk tuanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar